Cara Memaknai Keimanan Kita sebagai Muslim yang Berasal dari Keturunan

Cara Memaknai Keimanan Kita sebagai Muslim yang Berasal dari Keturunan

Mayoritas dari Kita Menjadi Muslim karena Keturunan. Bagaimana Cara Memaknai Agar Keimanan Kita Makin Mendalam dan Berimplikasi dalam Kehidupan Kita?

Keimanan adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim. Keimanan adalah keyakinan yang kuat dan teguh kepada Allah SWT dan segala sesuatu yang menjadi pokok ajaran Islam. Keimanan adalah sumber motivasi, inspirasi, dan orientasi bagi seorang muslim dalam menjalani hidup di dunia ini.

Namun, tidak semua muslim memiliki keimanan yang sama. Ada yang memiliki keimanan yang tinggi, ada yang sedang, dan ada yang rendah. Ada yang memiliki keimanan yang kokoh, ada yang goyah, dan ada yang rapuh. Ada yang memiliki keimanan yang berdasarkan ilmu, ada yang berdasarkan tradisi, dan ada yang berdasarkan emosi.

Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat dan kualitas keimanan seseorang adalah asal-usul atau keturunan. Mayoritas dari kita menjadi muslim karena kita lahir dari orang tua yang muslim. Kita mewarisi agama Islam dari generasi sebelum kita. Kita mengikuti apa yang diajarkan dan dilakukan oleh orang tua, keluarga, dan lingkungan kita.

Tentu saja, ini adalah sebuah nikmat dan karunia dari Allah SWT. Kita patut bersyukur bahwa kita dilahirkan dalam keluarga muslim. Kita patut bersyukur bahwa kita mendapatkan pendidikan agama sejak dini. Kita patut bersyukur bahwa kita memiliki akses untuk mempelajari dan mempraktikkan ajaran Islam.

Namun, di sisi lain, ini juga menimbulkan tantangan dan risiko bagi keimanan kita. Apa itu? Yaitu kemungkinan kita menjadi muslim tanpa makna. Artinya, kita menjadi muslim hanya karena mengikuti arus, tanpa memahami esensi dan tujuan dari agama Islam. Kita menjadi muslim hanya karena mengucapkan syahadat, tanpa menghayati makna dan konsekuensi dari kalimat tauhid itu. Kita menjadi muslim hanya karena menjalankan ibadah-ibadah ritual, tanpa merasakan manfaat dan dampaknya bagi kehidupan kita.

Hal ini sangat berbahaya, karena bisa membuat keimanan kita menjadi hampa, datar, kering, dan tidak berkembang. Keimanan yang seperti ini tidak akan mampu memberikan kita petunjuk, perlindungan, ketenangan, kebahagiaan, dan kesuksesan di dunia dan akhirat. Keimanan yang seperti ini tidak akan mampu menghadapi godaan, cobaan, ujian, dan tantangan yang ada di sekitar kita. Keimanan yang seperti ini tidak akan mampu memberikan kontribusi positif bagi diri kita sendiri, keluarga kita, masyarakat kita, bangsa kita, dan umat manusia.

Lalu, bagaimana cara agar keimanan kita tidak menjadi muslim tanpa makna? Bagaimana cara agar keimanan kita makin mendalam dan berimplikasi dalam kehidupan kita? Bagaimana cara agar keimanan kita menjadi sumber kekuatan, kedamaian, kecerdasan, kreativitas, produktivitas, dan kemuliaan bagi diri kita dan orang lain?

Berikut ini adalah beberapa langkah atau cara yang bisa kita lakukan untuk memaknai keimanan kita sebagai muslim:

1. Mempelajari Aqidah Islam dengan Benar

Aqidah adalah dasar atau pondasi dari keimanan seseorang. Aqidah adalah keyakinan kepada Allah SWT sebagai Tuhan semesta alam, kepada Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT terakhir dan terbaik bagi umat manusia, kepada kitab-kitab Allah SWT terutama Al-Quran sebagai pedoman hidup bagi umat Islam, kepada para malaikat Allah SWT sebagai makhluk ghaib yang bertugas menjalankan perintah Allah SWT, kepada hari akhir sebagai hari pembalasan bagi semua makhluk, dan kepada qada dan qadar Allah SWT sebagai ketetapan dan ketentuan Allah SWT atas segala sesuatu.

Mempelajari aqidah Islam dengan benar adalah langkah pertama untuk memaknai keimanan kita sebagai muslim. Dengan mempelajari aqidah Islam, kita akan mengetahui siapa Allah SWT, siapa Nabi Muhammad SAW, apa Al-Quran, siapa para malaikat, apa hari akhir, dan apa qada dan qadar. Dengan mengetahui hal-hal ini, kita akan mengenal Allah SWT lebih dekat, mengikuti Nabi Muhammad SAW lebih taat, memahami Al-Quran lebih dalam, menyadari keberadaan para malaikat lebih nyata, mempersiapkan diri untuk hari akhir lebih serius, dan menerima qada dan qadar Allah SWT lebih ikhlas.

Mempelajari aqidah Islam juga akan membuat kita menghindari kesalahan-kesalahan dalam berkeyakinan, seperti syirik, bid’ah, khurafat, takhayul, nifak, dan sebagainya. Kesalahan-kesalahan ini bisa merusak keimanan kita dan menjauhkan kita dari Allah SWT. Mempelajari aqidah Islam juga akan membuat kita menghormati dan menghargai keyakinan orang lain yang berbeda dengan kita, tanpa merendahkan atau memaksa mereka untuk mengikuti keyakinan kita.

Untuk mempelajari aqidah Islam dengan benar, kita bisa membaca buku-buku yang membahas tentang aqidah Islam secara sistematis dan komprehensif. Kita juga bisa mengikuti kajian-kajian yang disampaikan oleh ulama-ulama atau da’i-da’i yang ahli dan terpercaya dalam bidang aqidah. Kita juga bisa bertanya kepada orang-orang yang lebih berilmu dan berpengalaman tentang hal-hal yang berkaitan dengan aqidah Islam.

2. Mengamalkan Syariat Islam dengan Ikhlas

Syariat adalah aturan atau hukum yang ditetapkan oleh Allah SWT melalui wahyu-Nya kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengatur segala aspek kehidupan umat Islam. Syariat mencakup ibadah-ibadah ritual seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan lain-lain; ibadah-ibadah sosial seperti silaturahim, tolong-menolong, berbuat baik kepada orang tua, anak yatim, fakir miskin, dan lain-lain; ibadah-ibadah individu seperti bersuci, berpakaian, makan minum, tidur bangun, dan lain-lain; ibadah-ibadah kolektif seperti berdakwah, berjihad, bermuamalah, bernikah, bercerai, dan lain-lain.

Mengamalkan syariat Islam dengan ikhlas adalah langkah kedua untuk memaknai keimanan kita sebagai muslim. Dengan mengamalkan syariat Islam, kita akan menunjukkan ketaatan dan kesetiaan kita kepada Allah SWT sebagai Tuhan kita. Kita akan menunjukkan penghargaan dan penghormatan kita kepada Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT bagi kita. Kita akan menunjukkan kesungguhan dan konsistensi kita dalam menjalankan ajaran Islam sebagai agama kita.

Mengamalkan syariat Islam juga akan memberikan manfaat-manfaat bagi diri kita sendiri dan orang lain. Manfaat-manfaat itu antara lain adalah: mendapatkan pahala dari Allah SWT di dunia dan akhirat; mendapatkan keberkahan dari Allah SWT dalam segala urusan; mendapatkan perlindungan dari Allah SWT dari segala bahaya; mendapatkan ketenangan dari Allah SWT dari segala kegelisahan; mendapatkan kebahagiaan dari Allah SWT dari segala kesedihan; mendapatkan kesehatan dari Allah SWT dari segala penyakit; mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT dari segala kehinaan; mendapatkan persaudaraan dari sesama muslim; mendapatkan kedamaian dari sesama makhluk; dan sebagainya.

Untuk mengamalkan syariat Islam dengan ikhlas, kita harus memiliki niat yang lurus karena Allah SWT semata. Kita harus memiliki ilmu yang cukup tentang syariat Islam yang bersumber dari Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW. Kita harus memiliki usaha yang maksimal untuk melaksanakan syariat Islam sesuai kemampuan dan kondisi kita. Kita harus memiliki sabar yang tinggi untuk menghadapi rintangan dan hambatan dalam menjalankan syariat Islam. Kita harus memiliki syukur yang banyak atas nikmat-nikmat yang diberikan Allah SWT kepada kita.

3. Menjalin Hubungan dengan Allah SWT dengan Tulus

Hubungan dengan Allah SWT adalah hubungan yang paling penting dan paling utama dalam kehidupan seorang muslim. Hubungan dengan Allah SWT adalah hubungan yang didasarkan pada cinta, takut, harap, rida, tawakkal, doa, dzikir, dan ibadah. Hubungan dengan Allah SWT adalah hubungan yang menghubungkan antara hati kita dengan hati-Nya, antara jiwa kita dengan jiwa-Nya, antara pikiran kita dengan pikiran-Nya, antara perbuatan kita dengan perintah-Nya, dan antara kehidupan kita dengan kehendak-Nya.

Menjalin hubungan dengan Allah SWT dengan tulus adalah langkah ketiga untuk memaknai keimanan kita sebagai muslim. Dengan menjalin hubungan dengan Allah SWT, kita akan merasakan kehadiran-Nya dalam setiap detik kehidupan kita. Kita akan merasakan kasih sayang-Nya dalam setiap nikmat yang kita nikmati. Kita akan merasakan rahmat-Nya dalam setiap masalah yang kita hadapi. Kita akan merasakan pertolongan-Nya dalam setiap kesulitan yang kita alami. Kita akan merasakan ampunan-Nya dalam setiap kesalahan yang kita lakukan.

Menjalin hubungan dengan Allah SWT juga akan membuat kita lebih dekat, lebih taat, lebih bersyukur, lebih sabar, lebih ikhlas, lebih tawakkal, lebih optimis, lebih bersemangat, dan lebih bahagia dalam menjalani hidup ini. Kita akan merasa bahwa Allah SWT adalah teman terbaik kita, penolong terbesar kita, pelindung terkuat kita, pemberi terbaik kita, pengampun teragung kita, dan tujuan tertinggi kita.

Untuk menjalin hubungan dengan Allah SWT dengan tulus, kita harus menyadari bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan dimintai pertolongan. Kita harus menyadari bahwa Allah SWT adalah pencipta, pemelihara, pengatur, dan penguasa segala sesuatu. Kita harus menyadari bahwa Allah SWT adalah Maha Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Bijaksana, Maha Adil, Maha Baik, Maha Penyayang, dan Maha Pengasih. Kita harus menyadari bahwa Allah SWT adalah lebih dekat kepada kita daripada urat leher kita.

Kemudian, kita harus mencintai Allah SWT dengan sepenuh hati. Kita harus mencintai Allah SWT melebihi segala sesuatu yang ada di dunia ini. Kita harus mencintai Allah SWT karena sifat-sifat-Nya yang sempurna dan perbuatan-perbuatan-Nya yang mulia. Kita harus mencintai Allah SWT karena Dia telah menciptakan kita, memberi hidayah kepada kita, memberi nikmat kepada kita, memberi ujian kepada kita, dan memberi janji kepada kita.

Selanjutnya, kita harus takut kepada Allah SWT dengan seimbang. Kita harus takut kepada Allah SWT karena dosa-dosa yang telah kita perbuat dan azab-azab yang telah Dia siapkan bagi orang-orang yang durhaka. Kita harus takut kepada Allah SWT karena kelemahan-kelemahan yang ada pada diri kita dan tipu daya syaitan yang selalu menggoda kita. Kita harus takut kepada Allah SWT karena kematian yang pasti datang dan hisab yang pasti berlangsung.

Lalu, kita harus berharap kepada Allah SWT karena rahmat-Nya yang meliputi segala sesuatu dan surga-Nya yang telah Dia janjikan bagi orang-orang yang beriman. Kita harus berharap kepada Allah SWT karena kebaikan-kebaikan yang telah Dia anugerahkan kepada kita dan ampunan-Nya yang selalu terbuka bagi kita. Kita harus berharap kepada Allah SWT karena pertolongan-Nya yang tidak pernah terputus dan hidayah-Nya yang tidak pernah berhenti.

Kemudian, kita harus ridha kepada Allah SWT dengan tunduk. Kita harus ridha kepada Allah SWT karena Dia adalah Tuhan kita yang Maha Pencipta, Maha Pemelihara, Maha Pengatur, dan Maha Penguasa. Kita harus ridha kepada Allah SWT karena Dia adalah Hakim kita yang Maha Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Bijaksana, dan Maha Adil. Kita harus ridha kepada Allah SWT karena Dia adalah Wali kita yang Maha Baik, Maha Penyayang, Maha Pengasih, dan Maha Penolong.

Selanjutnya, kita harus bertawakkal kepada Allah SWT dengan yakin. Kita harus bertawakkal kepada Allah SWT karena Dia adalah Zat yang menguasai segala urusan dan segala makhluk. Kita harus bertawakkal kepada Allah SWT karena Dia adalah Zat yang memberi rezeki dan memberi solusi. Kita harus bertawakkal kepada Allah SWT karena Dia adalah Zat yang memberi kekuatan dan memberi kemudahan. Kita harus bertawakkal kepada Allah SWT karena Dia adalah Zat yang memberi kemenangan dan memberi keajaiban.

Lalu, kita harus berdoa kepada Allah SWT dengan rajin. Kita harus berdoa kepada Allah SWT karena Dia adalah Zat yang Maha Mendengar doa hamba-Nya dan Maha Mengabulkan permintaan hamba-Nya. Kita harus berdoa kepada Allah SWT karena Dia adalah Zat yang Maha Dekat dengan hamba-Nya dan Maha Sayang kepada hamba-Nya. Kita harus berdoa kepada Allah SWT karena Dia adalah Zat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Maha Memberi apa saja yang diinginkan hamba-Nya.

Terakhir, kita harus berdzikir kepada Allah SWT dengan banyak. Kita harus berdzikir kepada Allah SWT karena Dia adalah Zat yang berhak dipuji dan disebut dengan nama-nama-Nya yang indah. Kita harus berdzikir kepada Allah SWT karena Dia adalah Zat yang menginginkan hamba-Nya untuk selalu mengingat-Nya dan bersyukur kepada-Nya. Kita harus berdzikir kepada Allah SWT karena Dia adalah Zat yang memberikan ketenangan hati bagi hamba-Nya yang berdzikir dan memberikan keagungan bagi hamba-Nya yang bertasbih.

Untuk menjalin hubungan dengan Allah SWT dengan tulus, kita bisa melakukan hal-hal berikut ini: membaca Al-Quran setiap hari dengan tadabbur dan tafakkur; shalat lima waktu dengan khusyu’ dan khudhu’; shalat sunnah dengan rajin dan istiqamah; puasa sunnah dengan niat dan sabar; zakat maal dengan ikhlas dan tepat; zakat fitrah dengan gembira dan bersih; haji atau umrah jika mampu dengan siap dan taqwa; sedekah dengan sukarela dan ceria; infaq dengan dermawan dan bijak; qurban dengan ikhlas dan semangat; dll.

4. Menyempurnakan Akhlak Islam dengan Indah

Akhlak adalah sifat atau karakter yang melekat pada diri seseorang. Akhlak bisa baik atau buruk, tergantung pada perilaku atau perbuatan seseorang. Akhlak bisa dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti genetik, lingkungan, pendidikan, pengalaman, dll.

Akhlak Islam adalah akhlak yang sesuai dengan ajaran Islam. Akhlak Islam adalah akhlak yang mengikuti teladan Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah atau suri tauladan terbaik bagi umat manusia. Akhlak Islam adalah akhlak yang mencerminkan sifat-sifat Allah SWT sebagai asmaul husna atau nama-nama terindah bagi Tuhan semesta alam.

Menyempurnakan akhlak Islam dengan indah adalah langkah keempat untuk memaknai keimanan kita sebagai muslim. Dengan menyempurnakan akhlak Islam, kita akan menampilkan diri kita sebagai muslim yang beriman dan bertaqwa. Kita akan menampilkan diri kita sebagai muslim yang berakal dan beradab. Kita akan menampilkan diri kita sebagai muslim yang berbudi dan beretika. Kita akan menampilkan diri kita sebagai muslim yang berjiwa dan bermartabat.

Menyempurnakan akhlak Islam juga akan memberikan dampak-dampak positif bagi diri kita sendiri dan orang lain. Dampak-dampak itu antara lain adalah: meningkatkan kualitas hidup kita secara fisik, mental, emosional, dan spiritual; meningkatkan kredibilitas kita di mata Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, malaikat, manusia, dan makhluk lainnya; meningkatkan kepercayaan diri kita dalam menghadapi tantangan dan peluang; meningkatkan kerjasama dan komunikasi kita dengan sesama muslim dan non-muslim; meningkatkan kesejahteraan dan keharmonisan kita dengan keluarga, tetangga, teman, kolega, dll.

Untuk menyempurnakan akhlak Islam dengan indah, kita harus mengenal dan mengamalkan sifat-sifat akhlak yang baik, seperti jujur, amanah, sabar, syukur, tawadhu’, adil, ikhlas, dll. Kita juga harus menghindari dan meninggalkan sifat-sifat akhlak yang buruk, seperti dusta, khianat, marah, kufur, sombong, zalim, riya’, dll. Kita juga harus mengambil contoh dan inspirasi dari Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang memiliki akhlak mulia dan terpuji.

5. Menyebarkan Dakwah Islam dengan Bijak

Dakwah adalah usaha atau aktivitas untuk menyampaikan atau menyebarkan ajaran Islam kepada orang lain. Dakwah bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti lisan, tulisan, media sosial, dll. Dakwah bisa ditujukan kepada berbagai kalangan, seperti muslim maupun non-muslim.

Dakwah Islam adalah dakwah yang sesuai dengan ajaran Islam. Dakwah Islam adalah dakwah yang mengikuti metode Nabi Muhammad SAW sebagai da’i atau pembawa dakwah terbaik bagi umat manusia. Dakwah Islam adalah dakwah yang mencerminkan misi Islam sebagai rahmatan lil alamin atau rahmat bagi seluruh alam.

Menyebarkan dakwah Islam dengan bijak adalah langkah kelima untuk memaknai keimanan kita sebagai muslim. Dengan menyebarkan dakwah Islam, kita akan menunaikan kewajiban kita sebagai umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia. Kita akan menunaikan kewajiban kita sebagai saksi-saksi Allah SWT di muka bumi. Kita akan menunaikan kewajiban kita sebagai pewaris para nabi dan rasul.

Menyebarkan dakwah Islam juga akan memberikan kontribusi-kontribusi bagi perkembangan dan kemajuan Islam di dunia ini. Kontribusi-kontribusi itu antara lain adalah: menambah jumlah orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT; menambah jumlah orang-orang yang mengenal dan mencintai Nabi Muhammad SAW; menambah jumlah orang-orang yang mempelajari dan mempraktikkan ajaran Islam; menambah jumlah orang-orang yang berperan aktif dalam membangun peradaban Islam; menambah jumlah orang-orang yang bersatu dalam ukhuwah Islamiyah; menambah jumlah orang-orang yang berjuang dalam jihad fi sabilillah.

Untuk menyebarkan dakwah Islam dengan bijak, kita harus memiliki niat yang murni karena Allah SWT semata. Kita harus memiliki ilmu yang benar tentang ajaran Islam yang bersumber dari Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW. Kita harus memiliki hikmah atau kebijaksanaan dalam menyampaikan dakwah sesuai dengan kondisi dan situasi penerima dakwah. Kita harus memiliki akhlak yang baik sebagai cermin dari dakwah yang kita sampaikan. Kita harus memiliki sabar dan ikhlas dalam menghadapi tantangan dan hambatan dalam berdakwah.

Kesimpulan

Dari uraian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa keimanan kita sebagai muslim tidak boleh menjadi muslim tanpa makna. Kita harus memaknai keimanan kita dengan cara-cara yang telah disebutkan, yaitu:

  • Mempelajari aqidah Islam dengan benar
  • Mengamalkan syariat Islam dengan ikhlas
  • Menjalin hubungan dengan Allah SWT dengan tulus
  • Menyempurnakan akhlak Islam dengan indah
  • Menyebarkan dakwah Islam dengan bijak

Dengan cara-cara ini, insya Allah, keimanan kita akan menjadi lebih mendalam dan berimplikasi dalam kehidupan kita. Keimanan kita akan menjadi sumber kebaikan, keberkahan, dan kebahagiaan bagi diri kita dan orang lain. Keimanan kita akan menjadi sumber kekuatan, kedamaian, kecerdasan, kreativitas, produktivitas, dan kemuliaan bagi diri kita dan orang lain. Keimanan kita akan menjadi sumber petunjuk, perlindungan, ketenangan, kesuksesan, dan keselamatan bagi diri kita dan orang lain.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah, taufik, dan inayah-Nya kepada kita semua. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga, melindungi, dan membimbing kita semua. Semoga Allah SWT senantiasa menerima, mengampuni, dan meridhai kita semua. Aamiin ya Rabbal alamin.