Bedah Bariatrik Bukan Kosmetik, Solusi Obesitas Ekstrem
![]() | |
| Pusat pelayanan medis menegaskan bahwa bedah bariatrik merupakan prosedur metabolik untuk mengatasi obesitas ekstrem dan penyakit penyerta, bukan tindakan kosmetik. (Foto: Dok. Fokus Berita) |
FOKUS TANGERANG - Bedah bariatrik kini kian diandalkan sebagai solusi medis untuk mengatasi masalah obesitas ekstrem yang disertai komorbid atau penyakit penyerta.
Intinya:
- Bedah bariatrik adalah prosedur metabolik untuk memulihkan fungsi tubuh, bukan kosmetik.
- Operasi ini ditujukan bagi pasien dengan kriteria Indeks Massa Tubuh (IMT) tertentu.
- Pasien wajib menjalani perubahan gaya hidup total dan pola makan bertahap seumur hidup.
Apa Fungsi Utama Bedah Bariatrik?
Fungsi utama bedah bariatrik adalah sebagai tindakan medis metabolik yang bertujuan mengembalikan fungsi-fungsi normal tubuh atau mengurangi penyakit penyerta (komorbid), bukan untuk kebutuhan estetika semata.
Dokter spesialis konsultan bedah digestif dr. Errawan Ramawitana Wiradisuria dalam pemaparan medis di Jakarta, Rabu, menegaskan status dari tindakan medis ini.
"Bedah bariatrik metabolik ini adalah suatu tindakan untuk mengembalikan fungsi-fungsi normal atau mengurangi komorbid. Jadi bukan untuk kosmetik, salah. Bahwa saja dia kurus kemudian dia menjadi lebih cantik, yaitu adalah efek samping. Efek utamanya adalah menghilangkan komorbid," ujar dr. Errawan.
Siapa Saja yang Boleh Menjalani Operasi Ini?
Pasien yang boleh menjalani operasi ini adalah mereka yang masuk kriteria Obesitas Kelas 2 dengan BMI di atas 35, atau Obesitas Kelas 1 (BMI 30–34.9) yang memiliki komorbid berbahaya.
Dr. Errawan menjelaskan bahwa tidak semua orang dengan kelebihan berat badan bisa langsung dioperasi karena indikasi utama didasarkan pada perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI).
Komorbiditas yang dimaksud meliputi hipertensi, diabetes melitus, gangguan tidur ekstrem (obstructive sleep apnea/OSA), sakit lutut parah akibat menahan beban, hingga ketidakseimbangan hormonal pada perempuan. Jika BMI pasien sudah di atas 50, diperlukan prosedur tambahan selain pengecilan lambung, seperti bypass usus.
Tindakan bariatrik ini memiliki batasan usia, yaitu dapat dilakukan pada pasien berusia 15 hingga 70 tahun. Syaratnya, kondisi organ vital pasien harus memenuhi syarat medis setelah melalui pemeriksaan ketat.
Bagaimana Proses Persiapan Sebelum Operasi?
Proses sebelum operasi melibatkan kolaborasi multidisiplin yang ketat antara dokter bedah, ahli gizi, hingga psikolog atau psikiater untuk memastikan keamanan jangka panjang.
Sebelum operasi dilakukan, kondisi kejiwaan pasien harus dinilai oleh psikolog/psikiater. Pasien dengan gangguan psikologis berat seperti bipolar yang tidak stabil tidak disarankan menjalani operasi.
Komitmen pasca-operasi membutuhkan stabilitas mental yang kuat. Pasien harus benar-benar siap secara mental untuk mengubah total gaya hidup mereka seumur hidup.
Bagaimana Pola Makan Pasien Pasca-Operasi?
Pola makan pasca-operasi harus diubah secara bertahap dari makanan cair hingga padat dengan porsi sangat kecil, karena kapasitas lambung telah dipotong hingga 70 persen.
Pemotongan tersebut membuat lambung pasien hanya menyisakan sekitar 30 persen kapasitas aslinya, sehingga peran ahli gizi menjadi sangat krusial.
Pada minggu pertama pasien hanya mengonsumsi makanan cair, minggu kedua makanan semi-cair, dan minggu ketiga makanan semi-padat (bubur). Akhirnya pasien kembali ke makanan padat namun dengan porsi sangat kecil, yaitu 3–4 sendok makan sekali makan dengan frekuensi 6 hingga 8 kali sehari.
"Setelah selesai operasi, makannya harus bertahap. Sebebas-bebasnya masih cuma 3-4 sendok, makannya harus teratur. Komunikasi dengan ahli gizi harus intens, terutama untuk apapun tentu yang kira-kira makanannya meragukan," tambah dr. Errawan mengenai pentingnya bimbingan nutrisi pasca-tindakan.
Selain itu, pasien diwajibkan mematuhi empat aturan wajib pasca-operasi: mengonsumsi vitamin seumur hidup karena penurunan penyerapan nutrisi, banyak minum air putih secara berkala (tidak boleh sekaligus), mengikuti aturan gizi, serta rutin berolahraga untuk mengencangkan kulit yang bergelambir akibat penurunan berat badan drastis.
Dukungan penuh dari keluarga juga menjadi pilar penting agar pasien tidak kembali ke pola hidup lama yang berpotensi memicu kenaikan berat badan hingga 30 persen di kemudian hari.
Penulis: Fuad Hasan
Editor: Ibrahim
FAQ
Apakah bedah bariatrik ditujukan untuk estetika atau kosmetik?
Bukan, bedah bariatrik adalah prosedur medis metabolik yang bertujuan mengembalikan fungsi normal tubuh dan mengatasi penyakit penyerta (komorbid), bukan untuk tujuan kosmetik.
Berapa syarat minimum indeks massa tubuh (BMI) untuk operasi ini?
Operasi disarankan untuk pasien Obesitas Kelas 2 (BMI di atas 35), atau Obesitas Kelas 1 (BMI 30–34.9) yang memiliki penyakit penyerta berbahaya.
Berapa batasan usia untuk pasien yang ingin menjalani bedah bariatrik?
Tindakan bariatrik ini dapat dilakukan pada pasien berusia 15 hingga 70 tahun dengan catatan kondisi organ vital memenuhi syarat medis.
Berapa banyak kapasitas lambung yang dipotong saat operasi?
Kapasitas lambung pasien dipotong hingga 70 persen, sehingga hanya menyisakan sekitar 30 persen dari kapasitas semula.
Apa saja aturan wajib yang harus dipatuhi pasien pasca-operasi?
Pasien wajib mengonsumsi vitamin seumur hidup, banyak minum air putih secara berkala, mengikuti aturan gizi, dan rutin berolahraga.

Posting Komentar