Rumah Pahlawan Prof Sardjito Dijual Fadli Zon Cek Status
![]() |
| Menteri Kebudayaan Fadli Zon memberikan wawancara cegat kepada wartawan di Jakarta. Pihaknya menyatakan akan mengecek status bangunan rumah peninggalan Pahlawan Nasional Prof. Dr. Sardjito di Yogyakarta yang dikabarkan dijual oleh pihak keluarga. |
FOKUS JAKARTA - Menteri Kebudayaan Fadli Zon merespons kabar penjualan rumah peninggalan Pahlawan Nasional Prof. Dr. Sardjito di Terban, Yogyakarta oleh pihak keluarga.
Intinya:
- Menteri Kebudayaan Fadli Zon akan memastikan status bangunan dan informasi lengkap terkait penjualan rumah Prof. Dr. Sardjito.
- Rumah bergaya arsitektur jengki di Terban tersebut merupakan milik pribadi yang menyimpan berbagai koleksi bersejarah milik sang pahlawan nasional.
- Fadli Zon berharap ada pihak yang tertarik memiliki bangunan tersebut untuk dijadikan ruang publik seperti museum.
Pihak Kementerian Kebudayaan kini bergerak untuk memeriksa kejelasan status dari bangunan bersejarah yang ditawarkan oleh ahli waris tersebut.
Bagaimana Langkah Pemerintah Terkait Penjualan Rumah Prof Sardjito?
Menteri Kebudayaan Fadli Zon memastikan pihaknya akan mengecek status bangunan hingga informasi lainnya terkait rumah peninggalan Prof. Dr. Sardjito di Terban, Yogyakarta yang dijual pihak keluarga karena statusnya yang merupakan milik pribadi.
Langkah ini diambil karena pemerintah tidak memiliki kewenangan langsung terhadap properti privat milik keluarga pahlawan nasional tersebut.
“Karena itu milik pribadi tentu kita tidak mempunyai kewenangan kecuali itu cagar budaya, kita berharap mungkin ada yang tertarik untuk memilikinya terutama sehingga menjadikan itu misalnya ruang publik seperti museum dan semacam itu coba nanti akan kita lihat,” kata Fadli dalam wawancara cegat di Jakarta, Rabu.
Fadli mengakui bahwa saat ini institusinya belum mendapatkan laporan yang menyeluruh mengenai rencana penjualan aset bersejarah tersebut.
“Nanti akan kita cek dulu ya kita belum dapat informasi yang utuh,” katanya.
Apa Saja Isi Rumah Peninggalan Rektor Pertama UGM Ini?
Rumah peninggalan rektor pertama Universitas Gadjah Mada yang terletak di Jalan Cik Di Tirto, Terban, Yogyakarta ini berdiri di atas tanah seluas 1.206 meter persegi.
Bangunan berarsitektur jengki dengan luas 800 meter persegi ini menyimpan mebel, furnitur, buku-buku, hingga koleksi keris yang masih tersimpan rapi.
Ironisnya, rumah yang lokasinya tidak jauh dari kampus UGM ini juga memiliki kantor di bagian belakangnya yang dulu menjadi pusat operasional obat tradisional temuan Sardjito bernama Calcusol.
Sardjito merupakan tokoh kelahiran Desa Purwodadi, Kabupaten Magetan, Madiun, Jawa Timur pada 13 Agustus 1891, yang memimpin UGM pada periode 1950-1961.
Nama sang pahlawan kini diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) di Yogyakarta atas jasa besarnya memberikan pengobatan darurat bagi gerilyawan masa penjajahan.
Selain dikenal sebagai tokoh farmasi pembuat obat tradisional dan modern, ia merupakan salah satu pendiri sekaligus Kepala Palang Merah Indonesia (PMI) Bandung yang didirikan pada 9 September 1945.
Penulis: Fuad Hasan
Editor: Ibrahim
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Apakah pemerintah bisa melarang penjualan rumah Prof. Dr. Sardjito?
Tidak bisa, karena rumah tersebut berstatus milik pribadi pihak keluarga, sehingga pemerintah tidak memiliki kewenangan kecuali bangunan itu ditetapkan sebagai cagar budaya. - Di mana lokasi rumah peninggalan Prof. Dr. Sardjito yang dijual?
Rumah tersebut berlokasi di Jalan Cik Di Tirto, Terban, Yogyakarta, tidak jauh dari kawasan kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). - Apa saja aset sejarah yang ada di dalam rumah tersebut?
Rumah berarsitektur jengki itu menyimpan mebel, buku-buku, koleksi keris, serta bangunan kantor di bagian belakang yang dulu digunakan untuk memproduksi obat tradisional Calcusol. - Siapa sesungguhnya sosok Prof. Dr. Sardjito?
Beliau adalah Pahlawan Nasional, salah satu pendiri sekaligus rektor pertama UGM, tokoh farmasi pencipta obat, serta salah satu pendiri pendiri sekaligus Kepala Palang Merah Indonesia (PMI) Bandung.

Posting Komentar