Jamstreet dan APDESI Merah Putih Luncurkan Ekosistem Ekonomi Desa Digital, Banten Jadi Pilot Project
![]() |
| Johan Arifin, Ketua Dewan Pakar DPP APDESI Merah Putih, menghadiri peluncuran ekosistem ekonomi desa berbasis digital bersama Jamstreet di Serang, Banten, Rabu (10/6/2026). |
FOKUS BANTEN - Platform transportasi online Jamstreet bersama DPP APDESI Merah Putih meluncurkan ekosistem ekonomi desa berbasis digital yang mengintegrasikan layanan transportasi, marketplace, koperasi desa, hingga sistem poin berbasis koin utilitas. Banten dipilih sebagai wilayah peluncuran perdana sebelum program diperluas ke sejumlah daerah lain di Indonesia.
Program tersebut diperkenalkan di Serang, Rabu (10/6/2026), sebagai model pemberdayaan ekonomi yang dirancang untuk menggerakkan roda perekonomian masyarakat dari tingkat desa.
Intinya:
- Jamstreet dan APDESI Merah Putih meluncurkan ekosistem ekonomi desa berbasis digital di Banten.
- Ekosistem mengintegrasikan transportasi online, marketplace, koperasi desa, dan koin utilitas.
- Setiap koperasi desa akan dilengkapi unit usaha peternakan ayam petelur berkapasitas 1.000 ekor.
- Petani mendapat dukungan permodalan Rp12 juta hingga Rp15 juta per hektare melalui sistem digital berbasis koin utilitas.
- Jamstreet mengklaim memiliki hampir 20 ribu pengguna terdaftar, sekitar 1.000 pengemudi aktif, serta 150 hingga 200 merchant.
Jamstreet Tawarkan Ekosistem Digital Terintegrasi
CEO Jamstreet, Andrew Arthur, mengatakan platform yang dipimpinnya hadir dengan konsep berbeda dibanding layanan transportasi online pada umumnya. Salah satu keunggulannya adalah skema pembagian hasil yang disebut lebih menguntungkan bagi pengemudi.
“Potongan yang kami terapkan hanya 5 persen sehingga pengemudi memperoleh pendapatan yang lebih besar. Kami ingin membangun ekosistem yang memberikan manfaat bagi seluruh pihak, baik pengemudi, pengguna, maupun pelaku usaha lokal,” ujar Andrew di Serang, Rabu (10/6/2026).
Selain layanan transportasi, setiap transaksi yang dilakukan pengguna dalam aplikasi akan menghasilkan poin atau koin utilitas yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai layanan di dalam ekosistem Jamstreet.
Sistem tersebut dirancang untuk mendorong aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus meningkatkan keterlibatan pengguna melalui pendekatan gamifikasi.
Jamstreet juga mengembangkan program koperasi desa yang terhubung langsung dengan marketplace. Melalui sistem tersebut, produk UMKM dan hasil usaha masyarakat desa dapat dipasarkan lebih luas dengan dukungan teknologi dan akses pembiayaan.
Model Ekonomi Berbasis Usaha Riil
Ketua Dewan Pakar DPP APDESI Merah Putih, Johan Arifin, menjelaskan konsep yang dikembangkan merupakan model ekonomi berbasis usaha riil yang menggabungkan koperasi, sektor pertanian, peternakan, dan sistem koin utilitas sebagai instrumen transaksi dalam ekosistem.
Menurut Johan Arifin, nilai koin utilitas dalam sistem tersebut bertumbuh berdasarkan aktivitas ekonomi yang terjadi di masyarakat.
“Ini bukan skema cepat kaya. Nilainya tumbuh karena ada aktivitas produksi, perdagangan, dan transaksi nyata yang dilakukan masyarakat. Semakin produktif masyarakat, semakin kuat nilai ekosistemnya,” kata Johan.
Koperasi Desa Dilengkapi Peternakan dan Dukungan Pertanian
Sebagai tahap awal, setiap koperasi desa akan dilengkapi unit usaha peternakan ayam petelur berkapasitas 1.000 ekor yang dikelola dengan pendampingan tenaga ahli dari Institut Pertanian Bogor (IPB).
Hasil usaha tersebut menjadi sumber pendapatan awal koperasi sekaligus modal pengembangan usaha berikutnya.
Program kemudian diperluas ke sektor pertanian. Petani akan memperoleh dukungan permodalan sebesar Rp12 juta hingga Rp15 juta per hektare yang disalurkan melalui sistem digital berbasis koin utilitas.
Setelah panen, hasil produksi diserap kembali oleh koperasi sehingga petani hanya mengembalikan modal pokok dan menikmati keuntungan usaha.
Distribusi dan Transaksi Terintegrasi dalam Satu Aplikasi
Dalam aspek distribusi, sistem ini dirancang untuk menyalurkan berbagai kebutuhan pokok dan produk industri ke titik-titik koperasi desa melalui kemitraan dengan Koperasi Merah Putih.
“Tujuannya sederhana, harga lebih murah, distribusi lebih cepat, dan keuntungan lebih banyak dinikmati masyarakat desa,” ujarnya.
Seluruh aktivitas ekonomi tersebut akan terintegrasi dalam satu aplikasi yang memungkinkan masyarakat berbelanja di warung-warung desa sesuai lokasi masing-masing.
Setiap transaksi akan menghasilkan akumulasi koin utilitas yang dapat digunakan kembali dalam berbagai layanan di dalam ekosistem.
Banten Jadi Wilayah Peluncuran Perdana
Banten dipilih sebagai wilayah peluncuran perdana sebelum program diperluas ke Jakarta, Bandung, Surabaya, dan sejumlah daerah lainnya di Indonesia.
Saat ini Jamstreet mengklaim telah memiliki hampir 20 ribu pengguna terdaftar, sekitar 1.000 pengemudi aktif, serta 150 hingga 200 merchant yang tergabung dalam platform.
Perusahaan juga terus melakukan edukasi mengenai literasi digital, blockchain, kecerdasan buatan (AI), dan transformasi ekonomi digital kepada masyarakat.
Melalui integrasi transportasi, koperasi, UMKM, pertanian, dan teknologi digital, Jamstreet dan APDESI Merah Putih optimistis mampu membangun model ekonomi baru yang bertumpu pada produktivitas masyarakat desa dan pemerataan kesejahteraan dari akar rumput hingga tingkat nasional.
Penulis: Sri Sulastri | Editor: Ibrahim

Posting Komentar