Mahasiswa yang Tidak Bisa Bahasa Inggris Siap-siap saja

Mahasiswi akuntansi mempelajari referensi berbahasa Inggris sebagai bekal menghadapi dunia kerja, sertifikasi profesi, dan perkembangan akuntansi global.
OPINI PUBLIK - Banyak mahasiswa masih menganggap mata kuliah Bahasa Inggris hanyalah pelengkap. Tidak sedikit yang beranggapan kemampuan tersebut hanya penting bagi mahasiswa sastra, hubungan internasional, atau mereka yang bercita-cita bekerja di perusahaan multinasional.
Pandangan seperti itu sebenarnya sudah tidak lagi relevan dengan kondisi dunia kerja saat ini. Di era digital, kemampuan berbahasa Inggris telah menjadi keterampilan dasar yang menentukan seberapa luas seseorang dapat mengakses ilmu pengetahuan, peluang karier, hingga jaringan profesional. Sayangnya, banyak mahasiswa baru menyadari pentingnya kemampuan tersebut ketika memasuki semester akhir atau bahkan setelah lulus kuliah.
Mahasiswa bebas memilih jurusan apa pun. Namun, satu kenyataan yang tidak dapat dihindari adalah sebagian besar sumber pengetahuan terbaik di dunia masih ditulis dalam bahasa Inggris.
Dunia Kerja Tidak Lagi Mengenal Batas Negara
Persaingan lulusan perguruan tinggi saat ini tidak hanya terjadi antarkampus di Indonesia. Perusahaan kini dapat merekrut tenaga kerja dari berbagai negara, sementara banyak pekerjaan dilakukan secara lintas negara melalui teknologi digital.
Tidak sedikit lowongan pekerjaan yang mencantumkan kemampuan berbahasa Inggris sebagai salah satu persyaratan, meskipun posisi yang ditawarkan bukan sebagai penerjemah maupun pengajar bahasa.
Hal tersebut menunjukkan bahwa bahasa Inggris bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan kompetensi dasar yang semakin dibutuhkan di berbagai bidang pekerjaan.
Mengapa Mahasiswa Akuntansi Perlu Menguasainya?
Mahasiswa akuntansi sering kali merasa kemampuan bahasa Inggris tidak terlalu penting karena fokus mereka berada pada angka dan laporan keuangan. Padahal, perkembangan dunia akuntansi sangat dipengaruhi dinamika ekonomi global.
Berbagai standar akuntansi internasional, jurnal ilmiah, perkembangan perpajakan, audit, hingga pelaporan keuangan umumnya pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris sebelum tersedia dalam bahasa lain.
Dengan menguasai bahasa Inggris, mahasiswa memiliki kesempatan lebih besar untuk mempelajari standar internasional secara langsung, mengikuti perkembangan terbaru, serta memahami istilah teknis yang memang banyak menggunakan bahasa Inggris.
Cepat atau lambat, setiap mahasiswa akuntansi akan berhadapan dengan istilah-istilah tersebut ketika memasuki dunia profesional.
Referensi Akademik Terbaik Sebagian Besar Berbahasa Inggris
Mahasiswa biasanya mulai merasakan pentingnya bahasa Inggris ketika menyusun skripsi atau tugas akhir. Saat mencari referensi ilmiah berkualitas, sebagian besar jurnal internasional yang menjadi rujukan utama ditulis dalam bahasa Inggris.
Database ilmiah seperti SSRN, Scopus, maupun ProQuest dipenuhi publikasi internasional yang menjadi acuan berbagai penelitian.
Selain itu, standar pelaporan keuangan internasional atau IFRS juga diterbitkan dalam bahasa Inggris. Ketika terjadi pembaruan standar, terjemahan resminya tidak selalu tersedia dalam waktu singkat. Akibatnya, mereka yang hanya mengandalkan dokumen terjemahan berpotensi tertinggal dibandingkan mereka yang mampu membaca dokumen aslinya.
Sertifikasi Profesi Menggunakan Bahasa Inggris
Kemampuan bahasa Inggris juga menjadi tantangan bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan karier melalui sertifikasi profesional.
Berbagai sertifikasi internasional seperti ACCA, CPA Australia, maupun CMA menggunakan materi dan soal ujian berbahasa Inggris. Peserta dituntut mampu memahami studi kasus, membaca soal dengan cepat, serta menganalisis informasi dalam waktu yang terbatas.
Semakin dini mahasiswa membangun kemampuan bahasa Inggris, semakin mudah pula mereka mempersiapkan diri menghadapi sertifikasi maupun tuntutan dunia kerja di masa depan.
Tidak Harus Fasih Seperti Penutur Asli
Masih banyak mahasiswa yang enggan belajar bahasa Inggris karena merasa harus memiliki kemampuan layaknya penutur asli.
Padahal, dunia kerja tidak menuntut aksen sempurna. Yang dibutuhkan adalah kemampuan fungsional, yaitu mampu membaca dokumen profesional, memahami isi jurnal, menulis surat elektronik secara jelas, serta mengikuti diskusi atau rapat tanpa kehilangan konteks pembicaraan.
Kemampuan tersebut dapat dibangun secara bertahap melalui kebiasaan sederhana, seperti membaca jurnal berbahasa Inggris, mempelajari laporan tahunan perusahaan, atau mengikuti podcast yang berkaitan dengan bidang keilmuan masing-masing.
Konsistensi menjadi kunci utama dalam proses belajar tersebut.
Investasi untuk Masa Depan
Pada akhirnya, kemampuan bahasa Inggris bukan sekadar syarat lulus mata kuliah atau memperoleh nilai yang baik di kampus.
Bagi mahasiswa akuntansi, kemampuan tersebut merupakan investasi jangka panjang untuk membuka akses terhadap ilmu pengetahuan, meningkatkan daya saing di dunia kerja, serta memperluas peluang berkarier di tingkat nasional maupun internasional.
Dunia akuntansi telah berkembang menjadi profesi yang terhubung secara global. Standarnya bersifat internasional, klien berasal dari berbagai negara, dan perkembangan ilmunya berlangsung sangat cepat.
Karena itu, mahasiswa yang mulai membangun kemampuan bahasa Inggris sejak dini akan memiliki bekal yang lebih kuat untuk menghadapi tantangan tersebut. Bukan sekadar agar bisa mendapatkan pekerjaan, tetapi juga memiliki kesempatan berkembang lebih jauh dalam karier profesionalnya.
Oleh: Amanda Nurlinda
Mahasiswa Akuntansi Universitas Pamulang
Posting Komentar